Minggu, 14 September 2014

Al-Marjan INDONESIA asli Lebaksiu

Almarjan Indonesia

Blossoms
Martabak Telor asal Lebaksiu Kabupaten Tegal dari Almarjan Indonesia.
Blossoms
Salah satu kios Almarjan Indonesia yang berlokasi di Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Banten.
Sebelum menjadi Almarjan Indonesia pada tahun 1960 di Jakarta dan Bandung, terbentuklah perkumpulan pedagang martabak dan pisang goreng bernama MARPIS, singkatan dari Martabak dan Pisang Goreng. Tokoh-tokoh nya adalah sebagai berikut : Pandi, Kamali Rusbad, DJubaidi Ahmad Baedowi dan tokoh-tokoh pemuda lain. Kegiatannya antara lain; perkumpulan sepak bola dan kegiatan sosial.

Pada tahun 1970, terbentuklah perkumpulan IKL (Ikatan Keluarga Lebaksiu). Tokoh-tokoh nya : H. Thabrani, H. Isro, Drs. Kaprawi, Khozin Tamjid, H. Abdul Malik, dan lain-lain. Tahun 1980 terbentuklah pengajian Darul Qur’an Al Islam dibawah pimpinan KH. Mahfud Toha, pada tanggal 4 Juli 1982 di jalan Ciniru No. 25 Jakarta, yang hadir mewakili MARPIS adalah Bapak Kamali Rusbad menandatangani pembentukan IKBT (Ikatan Keluarga Besar Tegal).

Pada tanggal 21 Pebruari 2007 pembentukan Assosiasi Pedagang Martabak dan Jajanan Indonesia di rumah H. Musa Abdullah, Kencana Loka, blok J1/21, Sektor XII, BSD City, Serpong-Tangerang. Hadir tokoh-tokoh pedagang martabak dan jajanan se-Jabodetabek, Lebaksiu Tegal dan tokoh-tokoh IKBT; antara lain Arief Muktiono dan Ir. H. Ismaun Tjokroharsono. Al Marjan diakui oleh IKBT sebagai pengganti nama Marpis. Dan pada tanggal 2 Mei 2007 deklarasi pembentukan Al Marjan Indonesia di RM. Bukit Sitanjung Lebaksiu Tegal milik H. Susalit. Dan kepengurusan Al Marjan Indonesia terbentuk pada tanggal 20 Mei 2007.

Produk-produk martabak dan jajanan . . .

Martabak Telor, Martabak Terang Bulan (Martabak Manis) dan Jajanannya antara lain adalah : Donat, Onde, Pukis, Gandasturi, Pisang Goreng, Tahu Goreng, Tahu Slawi, Cakwe, Kue Bantal, Kue Putu, Carabikang, Putu Mayang, dan banyak lagi.

HALAL BI HALAL

HALAL BI HALAL ALMARJAN INDONESIA BERSAMA PT. SRIBOGA RATURAYA DI KOMPLEK PEMANCINGAN BUKIT SITANJUNG LEBAKSIU – TEGAL PADA HARI MINGGU, 19 SEPTEMBER 2010 (10 SYAWAL 1431 H) Dengan tema Bersama Almarjan : Menjadi Manusia Yang Santun Dan Peka Sosial.

Pada tanggal 19 September 2010, Almarjan Indonesia yang dipimpin oleh Bapak H. M. Abdullah, SE melaksanakan halal bi halal di komplek pemancingan sitanjung lebaksiu – tegal, acara yang dimulai dengan pembukaan pertandingan bola futsal yang sudah dimulai tiga hari sebelumnya bukan hanya itu saja komunitas ini juga mengadakan perlombaan-perlombaan seperti : catur, kreasi martabak, gerak jalan, serta memberikan santunan kepada Guru madrasah-madrasah di sekitar lingkungan Lebaksiu – Tegal. Acara ini dihadiri oleh para anggota Almarjan yang berada di seluruh indonesia, dan juga dihadiri oleh bapak koperasi kabupaten tegal yang juga termasuk dalam Ikatan Keluarga Besar Tegal (IKBT).

MUSYAWARAH NASIONAL I DAN TABLIGH AKBAR

MUSYAWARAH NASIONAL I DAN TABLIGH AKBAR BERSAMA PROCHIZ DI LEBAKSIU KIDUL – TEGAL PADA HARI KAMIS, 1 SEPTEMBER 2011 (3 SYAWAL 1432 H) Dengan tema Menuju Pelembagaan Organisasi yang Modern dan Dinamis Untuk Kesejahteraan Anggota.

Pada tanggal 1 September 2010, Almarjan Indonesia yang para anggotanya berkeinginan untum memperkuat dalam hal kepengurusan organisasi supaya lebih legitimate (sah) mengingat keberadaan anggota yang tersebar luas di seluruh indonesia, dan saat halal bi halal tahun 2011 inilah waktu yang tepat untuk dilaksanakannya MUNAS I setelah 5 tahun berdirinya ALMARJAN.

Kepengurusan yang dahulu terdapat dua ketua, yaitu Ketua Presidium H. Musa Abdullah, SE dan Ketua Harian H. Mufsis Susalit, sekarang menjadi hanya satu ketua yaitu Ketua Umum. Dan hasil dari Musyawarah Nasional ini adalah terpilihnya H. Musa Abdullah, SE sebagai Ketua Umum. Dan dalam pelaksanaan TABLIGH AKBAR juga didukung oleh Wakil Bupati H. Heri Sulistiawan, SH. MHum dan Kepala Desa H. Ali Nuridin serta dimeriahkan oleh Qoriah Internasional - H. Muamar ZA

Rabu, 03 September 2014

Martabak Lebaksiu

                    Martabak Lebaksiu “Warisan” India



Image : martabak manis lebaksiu

SECARA umum, martabak bukan suatu makanan yang asing. Makanan yang digoreng terbuat dari adonan terigu dan telur bebek itu sangat mudah didapatkan. Penjual martabak sudah tersebar di tempat-tempat umum seperti pasar maupun tempat keramaian.
Meski demikian, tidak banyak yang mengetahui asal muasal makanan martabak.
Bagi warga Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal, martabak mempunyai sejarah tersendiri. Maka, tak heran bila ratusan penduduk setempat berdagang sebagai penjual martabak. Mereka tersebar di berbagai tempat. Boleh dibilang, tak ada kota yang tidak dirambah penjual martabak asal Lebaksiu.
“Mungkin, yang tidak ada penjual martabak itu hanya di Timor Timur,” kelakar penjual martabak Mustaqim (26). Ia mengatakan, penjual martabak dari Lebaksiu tersebar di seluruh penjuru tanah air. Di Irian Jaya saja, kata dia, mencapai puluhan orang yang berjualan martabak. “Menjelang akhir tahun atau Hari Raya, mereka pulang ke sini dan berkumpul tukar pengalaman,” paparnya.
Lantas, apa hubungan sejarah martabak dengan orang dari Lebaksiu ? Menurut penuturan Mustaqim, warga Lebaksiu memiliki warisan dalam membuat martabak dari orang kewarganegaraan India. Konon, dia bernama Abdullah (Almarhum) datang ke Lebaksiu menikah dengan orang Lebaksiu. Kebetulan Abdullah memiliki keahlian membuat martabak.
“Keahliannya itu kemudian ditularkan ke warga setempat. Menurut cerita, warga kemudian secara gethok tular (disebarluaskan Red.) belajar bersama membuat martabak. Misal, membuat adonan seperti ini, butuh beberapa bulan lho,” ujar dia seraya menunjukkan olahan adonan yang siap digoreng.
Dari keahlian membuat martabak itu, ujar dia, tak pelak warga setempat bisa membedakan mana martabak buatan Lebaksiu dan martabak yang tiruan. Martabak Lebaksiu lebih tebal dan gurih.
Dari cerita itu, maka warga setempat berani mengklaim cikal bakal makanan martabak berasal dari Lebaksiu.
“Aslinya mungkin dari India. Tetapi, pertama kali diajarkan cara membuat martabak pertama kali di sini.”
Bumbu Rahasia
Mustaqim yang sudah menjual martabak sejak duduk kelas satu SLTP ini mengatakan, martabak produk asli Lebaksiu dengan daerah lain berbeda. Yang membedakan pada peracikan bumbu daging sapi atau kerbau.
“Melihat bahan olahan sih sama, tetapi bumbunya tetap berbeda.”
Menariknya, untuk pembuatan bumbu ini tidak sembarang orang bisa. Dia mengaku dalam membuat bumbu tidak diberitahukan ke orang lain. “Itu rahasia. Kecuali, kalau orang itu asli dari lebaksiu. Tujuannya agar rasa martabak Lebaksiu itu tetap asli,” ujar dia.
Apa yang dikemukakan Mutaqim memang boleh dipercaya. Sebagian besar di beberapa Kota besar, seperti di Kota Tegal, Slawi, dan Brebes saja kebanyakan yang menjual martabak berasal dari Lebaksiu. “Memang rata-rata dari sana. Seperti ketika ada pameran atau pekan raya, penjual martabak dari Lebaksiu,” ujar Muh Amin (45) warga Songgom, Brebes.
“Jangankan di wilayah sini. Saya berani jamin, penujual martabak di Jawa dan Bali itu banyak yang berasal dari Lebaksiu,” ujar Mustaqim menimpali. Buktinya ? “Setelah terjadi pengeboman di Kuta Bali, puluhan penjual martabak di sana kembali ke sini. Mereka mengaku pembeli martabak sepi setelah kejadian tersebut,” kata dia menirukan pengakuan penjual martabak yang kembali ke Lebaksiu.
Meski berbisnis martabak itu jatuh bangun karena kondisi, namun warga setempat tidak patah arang. Mereka bersemangat untuk tetap eksis sebagai penjual martabak.
Ini terlihat dari sistem bisnis yang menggunakan jasa perbankan. Bila Anda bepergian melewati jalur selatan, maka di tikungan jalan Kecamatan Lebaksiu akan terlihat gedung Bank Martabak Mandiri.
“Kita bisa pinjam modal untuk membuka bisnis menjual martabak. Memang kebanyakan dari kita-kita,” jelas Mustaqim yang mengaku bila membuka usaha pertama kali butuh modal sekitar Rp 5 juta. Ditanya soal penghasilan, dia mengaku per hari rata-rata habis 40 butir hingga 60 butir telur bebek. “Lumayanlah…”kata dia singkat

ASAL USUL DESA LEBAKSIU DAN TEMPAT MENARIKNYA.

                                                            TEGAL SEJARAH
                                  ASAL USUL DESA LEBAKSIU DAN TEMPAT
                                                            MENARIKNYA.
        Lebaksiu berasal dr kata Lebak Ciut, karna pada
zaman dahulu kala ada orang yang bermata
pencaharian petani membuat Lebak dan lebak itu
ciut (sempit).
        Lebaksiu merupakan salah satu nama daerah di
Kabupaten Tegal yang terletak di sebelah Selatan
Kota Slawi. Penduduk sekitar yang biasanya
bermata pencaharian sebagai petani, pedagang,
atau penambang sirtu (pasir dan batu). Meski
demikian, Lebaksiu mempunyai beberapa ikon
sebagai ciri khas yang membedakannya dengan
daerah lain di Kabupaten Tegal, bahkan mungkin di
wilayah nusantara. Ikon yang menjadi andalan
Lebaksiu diantaranya:
1. Martabak
        Martabak merupakan jenis makanan yang
mengadopsi makanan khas cita rasa negeri India.
Di Indonesia ada dua jenis martabak, yaitu
martabak telor (di India disebut moortaba) dan
martabak terang bulan atau biasa disebut
martabak manis. Susunan Bahan Dasar Martabak
Telor terdiri dari donan tepung terigu yang dibentuk
bulat sebesar telur ayam, kemudian dibanting,
dilebarkan diatas kaca, marmer atau seng. Setelah
membentuk lingkaran berdiameter kurang lebih 40
cm, kemudian diisi dengan campuran telur, sayuran,
irisan-irisan kecil daging yang telah dimasak
dengan bumbu-bumbu. Kemudian digoreng, dan
kemudian bisa langsung dihidangkan tanpa kare
kambing/gulai. sedangkan Martabak terang bulan/
martabak manis (disebut terang bulan, karena
bentuknya bulat seperti bulan purnama) dibuat
dengan bahan-bahan dasar adonan tepug terigu,
gula, telor, dan lain-lain. Kemudian dicetak
menggunakan cetakan piring Seng. Kemudian
dipanggang dan digoyangkan diatas bara api, arang
kayu, maupun kompor minyak. Sering martabak
terang bulan ini disebut juga martabak “goyang”.
Isi atau bumbu-bumbunya adalah olesan mentega/
margarine, susu, selai pepaya, selai nanas, meises,
kacang dan lain-lain. Saat ini Martabak Lebaksiu,
baik Martabak Telor maupun Martabak Manis,
menyebar dan bisa dinikmati hampir di seluruh
wilayah nusantara. Bukan hanya itu, penyebaran
Martabak juga sudah sampai ke luar negeri
diantaranya Jeddah, Saudi Arabia. Maka jangan
heran jika banyak dijumpai Pengusaha dan
Pedagang Martabak berhasil menunaikan ibadah
Haji. Lihat lebih jelas mengenai Martabak
postingan martabak sudah mas cosmos posting di
asal usul sejarah martabak di BWT.
2.Patung GBN
       GBN merupakan singkatan dari Gerakan Banteng
Negara. GBN merupakan nama Komando yang
dibentuk pada Januari 1950 dibawah pimpinan
Letkol Sarbini. GBN ini berfungsi untuk mencegah
penyebaran Gerakan DI/TII di Jawa Tengah yang
dipimpin oleh Amir Fatah (bekas anggota TNI dari
kesatuan Hizbullah) di bagian utara, yang bergerak
di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Gerakan
DI/TII dapat ditumpas melalui Operasi Banteng
Negara pimpinan Kolonel Sarbini, Letkol Bachrum
dan Letkol Ahmad Yani, pada tahun 1950. Untuk
mengenangnya, di Procot Slawi dibangun monumen
GBN dan di Kecamatan Lebaksiu dibangun juga
patung GBN yang lokasinya terletak sekitar 8 KM
dari Slawi kea rah Selatan. Menurut cerita warga
sekitar, penumpasan Gerakan DI/TII di Tegal juga
melewati Bukit Sitanjung di Lebaksiu.
3.Sungai Gung
        Lebaksiu menjadi daerah aliran Sungai Gung yang
memilik daya pikat tersendiri. Jika arus sungainya
tidak deras, kita bisa bermain-main air atau
sekedar duduk-duduk di bebatuan yang besar.
Meski demikian, dianjurkan tetap berhati - hati
karena terdapat beberapa bebatuan yang licin dan
bagian sungai yang dalam. Di sore hari akan
dijumpai beberapa penduduk sekitar yang
memancing ikan.
4.Jembatan Sunglon
      Di atas Sungai Gung, ada jembatan yang memiliki
nilai historis dan biasa disebut oleh penduduk
sekitar sebagai Jembatan Sunglon. Jembatan yang
mempunyai panjang sekitar 200 meter dibangun
pada jaman penjajahan Belanda. Lokasi jembatan
ini berada di sebelah Timur Patung GBN. Bentuk
bangunannya masih asri walau ada sedikit renovasi
dan rusak (berlobang) di beberapa bagian jembatan
karena bangunannya sudah tua, sehingga kita
harus hati-hati apabila melintasinya.
5.Bukit Sitanjung



       Tidak jauh dari Jembatan Sunglon terdapat Bukit
Sitanjung yang menjadi salah satu obyek wisata
alam di Desa Lebaksiu Lor, Kecamatan Lebaksiu,
Kabupaten Tegal. Apabila kita mendaki ke atas
bukit, kita bisa melihat pemandangan deretan
pegunungan yang menjulang, bentangan Sungai
Gung yang lebar, di tenggara terlihat Gunung
Slamet yang menambah keindahan.
Jembatan Sunglon dan Sungai Gung dari Bukit
Sitanjung
6.Pabrik Es Sari Petojo
       Selain berwisata menikmati pemandangan alam, di
Lebaksiu juga terdapat wisata pendidikan dengan
menunjungi Pabrik Es Sari Petojo. Pabrik es ini
sering menyuplai kebutuhan es masyarakat sekitar
Kabupaten dan Kota Tegal. Terlebih di Tempat
Pelelangan Ikan.
      
Pada momen tertentu, di sekitar Bukit Sitanjung 
juga dilaksanakan perayaan Rabu Pungkasan
(Rebo Wekasan) satu tahun sekali. Dalam bahasa
Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’
artinya terakhir. Rebo Wekasan dipakai untuk
menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar.